Log in
A+ A A-

Penyandang Disabilitas Rungu yang Rajin Bekerja - Shandy Rahmat

Beberapa bulan yang lalu Kerjabilitas berkesempatan untuk mengikuti Job Fair di kota Kediri. Hari ke-2 tim Kerjabilitas mengikuti Job Fair, kami kedatangan Shandy, penyandang disabilitas rungu dari Jombang. Shandy harus naik kendaraan umum berangkat dari Jombang menuju Kediri dengan waktu tempuh sekitar 1.30 jam perjalanan untuk menemui tim Kerjabilitas. 

Saat Shandy berbincang dengan tim Kejabilitas (Shandy yang disabilitas rungu masih bisa memahami gerak bibir) Shandy yang merupakan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan jurusan Akuntansi di kota Jombang, memberitahu kami jika Shandy ingin memiliki pekerjaan. Shandy sudah lama menganggur setelah Shandy lulus dari sekolah. Ketika tim Kerjabilitas bertanya pekerjaan apa yang Shandy inginkan, Shandy pun menjawab jika Shandy ingin bekerja sebagai Cleaning Service. Beberapa saat tim Kerjabilitas berbincang dan membantu Shandy untuk membuat akun di Kerjabilitas, Shandy pun bercerita jika Shandy menjadi disabilitas rungu sejak usia sekolah dasar.

Empat bulan berlalu, hingga dibulan November 2016 tim Kerjabilitas mendengar kabar jika Shandy mendapatkan pekerjaan sebagai Cleaning Service disalah satu perusahaan inklusi di Yogyakarta. Awalnya Shandy bingung, apakah pekerjaan itu akan Shandy ambil atau tidak. Shandy sempat melakukan konsultasi dengan tim Kerjabilitas Surabaya, apakah tim Kerjabilitas bisa mendampingi Shandy dalam wawancara, bukan tanpa alasan Shandy bertanya kepada tim Kerjabilitas apakah tim Kerjabilitas bisa mendampingi Shandy pergi ke Yogyakarta, karena Shandy sebelumnya belum pernah pegi jauh sendiri, Shandy cemas jika Shandy kesulitan untuk berkomunikasi saat diperjalanan, dan Shandy sama sekali tidak memiliki kenalan di Yogyakarta. Setelah tim Kerjabilitas beri masukkan, akhirnya Shandy berangkat sendiri ke Yogyakarta untuk wawancara, tanpa dampingan keluarga atau tim Kerjabilitas.

Shandy yang dari awal memiliki keinginan untuk bekerja sebagai Cleaning Service, akhirnya keinginan Shandy terwujud. Shandy diterima bekerja sebagai Cleaning Service diperusahaan Trust and Clean di Yogyakarta. Tim Kerjabilitas sempat melakukan komunikasi dengan pemimpin perusahaan dimana Shandy bekerja. “Saya suka dengan pekerjaan Shandy mbak, Shandy itu rajin”, tutur pimpinan perusahaan.

Melalui percakapan whatsapp, Shandy juga bercerita jika Shandy senang bisa bekerja di Yogyakarta berkat Kerjabilitas. Walaupun Shandy harus jauh dari keluarga, namun Shandy menikmati pekerjaan pertamanya tersebut. “ini adalah pekerjaan pertama saya, saya senang bekerja disini. Saya paham, jika saya salah saya akan ditegur, karena itu adalah tanggung jawab setiap pekerja dalam pekerjaan. Saya juga berharap jika teman-teman disabilitas tuli yang lainnya mendapatkan pekerjaan seperti saya. Saya akan berdoa agar teman-teman bisa menyusul saya mendapatkan pekerjaan, tetep semangat dan jangan pernah putus asa dalam setiap keadaan.”

 

Ketika kita berani mencoba, kita akan tahu pengalamannya. Ketika kita punya keyakinan dan mau mengusahakannya, pasti ada jalan. 

  • Published in Artikel

Artikel Jobseeker Inspiratif Kerjabilitas.com Ahmad Muhardi, Cleaning Service, Hotel Alana

Menjadi penyandang disabilitas sejak kecil kini Ahmad Muhardi menjadi karyawan The Alana Hotel And Convention Center Yogyakarta sebagai tenaga cleaning service. Berawal dari sang adik, Tuti Triyani yang mendaftarkan secara online Ahmad sang kakak di Kerjabilitas. Menggunakan alamat email Tuti, Ahmad mulai dicarikan pekerjaan melalui Kerjabilitas. Hingga tiba suatu hari Ahmad dihubungi tim Kerjabilitas jika Hotel Alana membutuhkan tenaga penyandang disabilitas rungu untuk mengisi posisi cleaning service. Setelah proses lamaran, Ahmad yang didampingi Tuti melakukan wawancara di Hotel Alana. Dalam proses wawancara Ahmad dilarang untuk didampingi Tuti, dengan alasan agar pihak Hotel Alana paham bagaimana cara berkomunikasi dengan Ahmad. Setelah proses wawancara pihak Hotel Alana tidak mendapat kesulitan dalam berkomunikasi. Dan setelah itu Ahmad diterima bekerja di Hotel Alana.

Di sekolah dasar, Ahmad sempat mengalami kendala kelulusan. Ahmad yang bersekolah bersamaan dengan Tuti tidak dapat lulus dari sekolah dasar, karena alasan pihak sekolah jika meluluskan Ahmad akan membuat nama sekolah buruk. Kedua orang tua Ahmad yang tidak terima dengan keputusan sekolah mencoba untuk klarifikasi kepada pihak sekolah. Alih-alih mendapat jawaban yang dapat diterima kedua orang tua Ahmad, pihak sekolah tidak mau menjelaskan apa-apa terkait ketidak bisa lulusan Ahmad. Akhirnya Ahmad menyelesaikan sekolah dasar tanpa mendapat ijazah. Setelah itu Ahmad sempat masuk ke sekolah luar biasa di desanya. Namun Ahmad yang seorang penyandang disabilitas rungu tidak betah, dikarenakan sekolah luar biasa adalah sekolah luar biasa untuk semua jenis penyandang disabilitas, sehingga Ahmad kesulitan dalam bersosialisasi.

Sebelumnya Ahmad melanjutkan sekolah setara sekolah menengah kejuruan di panti rehabilitasi bagi penyandang disabilitas rungu di Jakarta tersebut. Disana Ahmad mengambil kejuruan menjahit dan bordir. Setelah lulus dari panti Ahmad disalurkan di perusahaan garmen yang ada di Jakarta. Hanya bertahan 8 bulan Ahmad bekerja di perusahaan garmen tersebut. Ahmad kembali mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan di perusahaan garmen tersebut. Dimana setiap kali Ahmad mendapatkan gaji, Ahmad akan dikenakan potongan dari orang yang biasa disebut mandor. Ayah Ahmad yang menegetahui hal tersebut, mencoba mencari tahu mengapa anaknya diperlakukan demikian. Dari beberapa informasi yang didapat Ahmad memiliki hutang dengan mandor tersebut, pada kenyataannya tidak pernah berhutang dengan siapapun. 

“Berkat Kerjabilitas kini kakak saya mendapat pekerjaan yang baik. Sebelumnya memang mas Ahmad sering bilang capek ya kerja, tapi setelah beberapa bulan kerja, mas Ahmad sudah terbiasa dengan pekrjaannya”, tutur Tuti adik Ahmad. Hal serupa juga diungkapkan oleh Bapak Rio selaku HRM Hotel Alana, “Tidak ada kendala saat saya, atau teman-teman Ahmad harus berkomunikasi dengan Ahmad. Kalau kami berbicara, lalu mas Ahmad tidak mengerti pasti kami tulis, setelah itu Ahmad sudah mengerti”, lanjut Bapak Rio.

 

  • Published in Artikel
Subscribe to this RSS feed