Log in
A+ A A-

Jobseeker & Employer Inspiratif Oktober-November 2016

Di penghujung tahun ini, kami mendapatkan kabar gembira dari 4 Jobseeker Kerjabilitas yang berhasil ditempatkan dalam pekerjaan dan program magang di beberapa posisi yang berbeda. Siapa-siapa saja dan bagaimana mereka berhasil mendapatkan pekerjaan tersebut? Simak ceritanya di sini.

Andhy Rahadhyan

Adhy Rahadhyan yang penyandang disabilitas daksa kelahiran Bandung ini mulai bekerja di PT. Eigerindo MPI pada bulan Oktober 2016. Setelah melamar lowongan dari PT. Eigerindo MPI yang ditayangkan Kerjabilitas.com, Andy menunggu selama 2 minggu hingga proses selanjutnya. Dalam proses wawancara Adhy tidak mengalami kesulitan. Menurut Adhy, proses wawancara berjalan dengan lancar dan tidak ada kendala.

Adhy juga menceritakan bahwa ia tidak mendapatkan perlakuan yang berbeda saat ia berada dikantor. PT. Eigerindo MPI tempatnya bekerja memiliki gagasan yang baik terhadap peraturan bagi seluruh karyawannya, yaitu setiap orang yang membangun relasi dengan baik di dalam pekerjaannya akan mudah untuk menemukan keluarga baru dilingkungan kerja tersebut. Dari situlah Adhy merasa nyaman, semua karyawan menyambut dengan baik. 

Mendapat pekerjaan dengan cepat melalui Kerjabilitas.com adalah berkah yang didapat Adhy. Ia merasa beruntung dan bersyukur mendapatkan perkerjaan tersebut, karena dengan bekerja Adhy bisa menjawab tantangan yang selama ini orang kira bahwa seorang penyandang disabilitas tidak mampu bekerja. "Pekerjaan ini akan memotivasi saya untuk menunjukan kemampuan yang saya miliki, sehingga penyedia kerja bisa melihat kemampuan penyandang disabilitas dalam bekerja, sehingga tidak lagi memandang sebelah mata seorang penyandang disabilitas." 

“Tetap berusaha untuk teman-teman penyandang disabilitas yang mungkin saat ini belum memiliki pekerjaan. Setiap manusia pasti memiliki jalan untuk mendapatkan pekerjaan. Jangan lupa usaha tersebut harus diiringi dengan kerja keras dan tidak boleh putus asa. Percaya dengan kemampuan diri, yakin terhadap setiap yang dilakukan. Hilangkan perasaan “minder”, tetap semangat dalam setiap kondisi apapun”, pesan Adhy untuk semua teman penyandang disabilitas.

Stefanus Sinar Firdaus

Stefanus Sinar Firdaus yang merupakan lulusan Institut Kesenian Jakarta ini memang sudah terlahir tuli sejak bayi. Selama kecil dia memang mengalami masalah pendengaran dan bicara. Pada saat itu ia bersekolah di Yayasan Santi Rama lalu Pangudi Luhur sebelum akhirnya mengambil Jurusan Desain Grafis di Institut Kesenian Jakarta. 

Setelah lulus pada tahun 2014, Stefan bekerja di PT. Wijaya Arta Mandiri untuk posisi Desain Grafis. Selama bekerja di PT  Wijaya Arta Mandiri jenis pekerjaan yang ia lakukan adalah mendesain berbagai media, katalog, booklet dan company profile, tak jarang Stefan juga mengurusi Marketing Communication  dengan membuat artwork di media sosial dan Visual Merchandise sebagai bagian untuk meningkatkan pemasaran produk dari perusahaan tersebut. 

Pria 27 tahun  yang mempunyai hobi menggambar ini  mengungkapkan bahwa hobinya lah yang menuntun ia ke pekerjaannya yang sekarang. Hobi menggambar tersebut lama kelamaan berkembang menjadi bentuk ilustrasi dan elemen grafis. Yang berujung pada pembuatan karya yang ternyata tak hanya bermanfaat bagi dirinya namun juga bagi perusahaan dimana ia bekerja. 

Bergabung dengan situs Kerjabilitas.com pada awal Oktober lalu, Stefan menjajal kesempatannya di Kerjabilitas.com atas informasi dari rekannya yang sesama tuli juga yang terlebih dahulu bergabung, bahwa ada lowongan untuk program pemagangan di PT. Amerta Indah Otsuka untuk posisi Desain Grafis. Program pemagangan tersebut akan berlangsung selama 6 bulan dan bertempat di Jakarta. Setelah bergabung di Kerjabilitas.com Stefan kemudian melamar posisi pekerjaan tersebut. Satu bulan  setelah melamar Stefan mendapat panggilan untuk interview. “Saya tertarik dan ingin mencoba pengalaman baru, jadi saya mencoba daftar di PT. Amerta Indah Otsuka. Saat itu saya tidak berharap banyak karena saya masih disibukkan dengan pekerjaan saya di PT. Wijaya Arta Mandiri” ungkap Stefan. 

Proses wawancara kerja yang Stefan jalani juga terbilang singkat, yaitu hanya sekitar 30 menit. Selama wawancara berlangsung Stefan tidak menggunakan pendamping, ia terbiasa untuk mandiri menjalani aktivitasnya, ia juga mengungkapkan bahwa ketika proses interview ia meminta agar pihak dari PT. Amerta Indah Otsuka berbicara dengan pelan dan (membuka mulut dengan) lebar. 

Selama bekerja di PT. Wijaya Arta Mandiri banyak pengalaman yang dialami Stefan, ia juga bercerita bahwa ia tidak mengalami kesulitan yang berarti meskipun terkadang ada beberapa jenis pekerjaan yang tidak bisa ia lakukan seperti tidak bisa telepon, ataupun diberi kepercayaan berkomunikasi dengan mitra kerja. “Namun saya masih bisa membuktikan diri sendiri dengan hal lain yaitu kemampuan mendesain dan komitmen kerja dalam pekerjaan, yang terpenting adalah tetap berpikir positif, optimis dan yakin kalau kita bisa membuktikan diri di depan orang-orang yang telah percaya dengan kita ” tambah Stefan. 

Santi Setyaningsih 

Santi Setyaningsih, penyandang disabilitas rungu lulusan 2016 salah satu universitas di Purwokerto jurusan Sosiologi. Menemukan pekerjaannya melalui Kerjabilitas setelah beberapa bulan menganggur paska lulus. Santi yang dulu pernah menjadi lecturer assistant di kampusnya semasa kuliah, mengungkapkan bahwa ia kesulitan mendapatkan pekerjaan sebelum tahu Kerjabilitas.

Santi akhinya menemukan pekerjaannya melalui Kerjabilitas.com pada bulan Oktober. Santi diterima di Pusat Rehabilitasi Yakkum sebagai Staf Admin setelah melakukan proses wawancara dan psikotes. Santi menceritakan bahwa Santi tidak kesulitan dalam melakukan wawancara dengan pihak Yakkum. Selain pihak Yakkum yang sudah terbiasa berinteraksi dengan penyandang disabilitas, Santi yang saat wawancara tidak ditemani penterjemah sudah terbisa bersosialisai dengan mereka yang non disabilitas, “Tidak ada kesulitan saat wawancara, mereka (pihak Yakkum) bisa mengerti apa yang saya sampaikan, saya juga bisa membaca gerak bibir, jadi tidak usah pake penterjemah”, ungkap Santi.

Santi yang berasal dari Purbalingga Jawa Tengah menceritakan kepada tim Kerjabilitas bahwa ini kali pertamanya tinggal di Yogyakarta. Santi yang tidak memiliki keluarga atau saudara di Yogyakarta sudah terbiasa hidup jauh dari keluarga. “Saya akan sendiri di Yogyakarta, saya tidak ada keluarga atau saudara, saya juga belum punya kenalan di Yogyakarta. Tapi tidak apa-apa karena saya sudah terbiasa menumpang atau menginap di rumah teman-teman saya. Hidup saya berpindah-pindah," lanjutnya sambil tersenyum.

Santi juga mengucapkan terima kasih kepada Kerjabilitas yang sudah menyebarluaskan informasi lowongan bagi penyandang disabilitas. 

Santi juga sempat berpesan kepada teman-teman penyandang disailitas rungu dan wicara yang seperti Santi. “Kita (penyandang disabilitas rungu-wicara) memiliki bakat dan potensi, kita harus mengembangkan itu. Kalau bakat dan potensi yang kita miliki kita gali dengan baik, maka hasilnya akan luar biasa. Jadi buat teman-teman tunarungu-wicara jangan ragu, malu, atau tertutup untuk menggali bakat dan potensi yang kita miliki. Saya yakin jika kita mau terbuka, mereka yang non disabilitas mau menerima kita kok,” pesan Santi. 

Shandy Rahmat 

Beberapa bulan yang lalu Kerjabilitas berkesempatan untuk mengikuti Job Fair di kota Kediri. Hari ke-2 tim Kerjabilitas mengikuti Job Fair, kami kedatangan Shandy, penyandang disabilitas rungu dari Jombang. Shandy harus naik kendaraan umum berangkat dari Jombang menuju Kediri dengan waktu tempuh sekitar 1.30 jam perjalanan untuk menemui tim Kerjabilitas. 

Saat Shandy berbincang dengan tim Kejabilitas (Shandy yang disabilitas rungu masih bisa memahami gerak bibir) Shandy yang merupakan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan jurusan Akuntansi di kota Jombang, memberitahu kami jika Shandy ingin bekerja. Shandy sudah lama menganggur setelah Shandy lulus dari sekolah. Ketika tim Kerjabilitas bertanya pekerjaan apa yang Shandy inginkan, Shandy pun menjawab jika Shandy ingin bekerja sebagai Cleaning Service. Beberapa saat tim Kerjabilitas berbincang dan membantu Shandy untuk membuat akun di Kerjabilitas, Shandy pun bercerita jika Shandy menjadi disabilitas rungu sejak usia sekolah dasar.

Empat bulan berlalu, hingga dibulan November 2016 tim Kerjabilitas mendengar kabar jika Shandy mendapatkan pekerjaan sebagai Cleaning Service disalah satu perusahaan inklusi di Yogyakarta. Awalnya Shandy bingung, apakah pekerjaan itu akan Shandy ambil atau tidak. Shandy sempat melakukan konsultasi dengan tim Kerjabilitas Surabaya, apakah tim Kerjabilitas bisa mendampingi Shandy dalam wawancara, bukan tanpa alasan Shandy bertanya kepada tim Kerjabilitas apakah tim Kerjabilitas bisa mendampingi Shandy pergi ke Yogyakarta, karena Shandy sebelumnya belum pernah pegi jauh sendiri, Shandy cemas jika Shandy kesulitan untuk berkomunikasi saat diperjalanan, dan Shandy sama sekali tidak memiliki kenalan di Yogyakarta. Setelah tim Kerjabilitas beri masukkan, akhirnya Shandy berangkat sendiri ke Yogyakarta untuk wawancara, tanpa dampingan keluarga atau tim Kerjabilitas.

Shandy yang dari awal memiliki keinginan untuk bekerja sebagai Cleaning Service, akhirnya cita-cita Shandy terwujud. Shandy diterima bekerja sebagai Cleaning Service diperusahaan Trust and Clean di Yogyakarta. Tim Kerjabilitas sempat melakukan komunikasi dengan pemimpin perusahaan dimana Shandy bekerja. “Saya suka dengan pekerjaan Shandy mbak, Shandy itu rajin”, tutur pimpinan perusahaan.

Kepada tim Kerjabilitas, Shandy juga bercerita jika Shandy senang bisa bekerja di Yogyakarta berkat Kerjabilitas. Walaupun Shandy harus jauh dari keluarga, namun Shandy menikmati pekerjaan pertamanya tersebut. “ini adalah pekerjaan pertama saya, saya senang bekerja disini. Saya paham, jika saya salah saya akan ditegur, karena itu adalah tanggung jawab setiap pekerja dalam pekerjaan. Saya juga berharap jika teman-teman disabilitas tuli yang lainnya mendapatkan pekerjaan seperti saya. Saya akan berdoa agar teman-teman bisa menyusul saya mendapatkan pekerjaan, tetap semangat dan jangan pernah putus asa dalam setiap keadaan.”

Triple "S" Stefanus, Santi Shandy dan Adhy merupakan sosok-sosok inspiratif yang membongkar stigma yang masih luas dipercaya masyarakat Indonesia bahwa penyandang disabilitas tidak mampu bekerja. Mereka-mereka lah yang membuktikan dirinya tidak lewat kata-kata tapi dengan usaha dan karya. 

 

 

  • Published in Artikel

Jobseeker Kerjabilitas Inspiratif Mei 2016

Cerita baik harus disebarkan, termasuk cerita keberhasilan jobseeker Kerjabilitas dalam menembus lapangan kerja pertama mereka. Bulan lalu kita diinspirasi oleh 3 jobseeker luar biasa yang upayanya jauh melebihi keterbatasannya. Bulan ini, 2 jobseeker Kerjabilitas lainnya layak kita sematkan sebagai Jobseeker Inspiratif bulan ini. Simak ceritanya di sini.

Elbert Giovanni Hadimartono

Pemuda kelahiran Melbourne, Australia ini mulai bergabung dengan Kerjabilitas pada akhir Maret 2016. Keberuntungan memang berpihak kepadanya, hanya sekali mengirim lamaran yang dibuka oleh Wikimedia Indonesia, Elbert langsung mendapat panggilan wawancara. Wawancara kerja pertamanya tersebut bukan dilaluinya begitu saja tanpa kendala. Sebagai tunarungu (disabilitas pendengaran), Elbert menemui kesulitan saat pihak Wikimedia mewawancarainya karena komunikasi yang terlalu cepat. Setelah ia menjelaskan kepada pewawancara bahwa ia kesulitan menangkap komunikasi tersebut, pewawancara Wikimedia menurunkan tempo bicaranya sehingga ia bisa menangkapnya lebih jelas. "Awalnya ada sedikit kesulitan saat proses wawancara, tapi keseluruhan dari proses itu lancar, kok", tutur Elbert saat ditanyai tim Kerjabilitas.

Setelah berhasil meyakinkan Wikimedia, Elbert akhirnya diterima bekerja sebagai Staf paruh waktu untuk Entri Data. Pekerjaan ini tidak menuntut Elbert untuk selalu hadir di kantor karena ia bisa mengerjakannya dari rumah, yang merupakan keuntungan tersendiri baginya. Walaupun demikian, pihak Wikimedia memberi masa orientasi bagi Elbert untuk beradaptasi dengan pekerjaan barunya, termasuk bersosialisasi dengan tim Wikimedia.

Sempat diwawancarai saat kru acara 360 Metro TV meliput proses wawancaranya dengan Wikimedia, ia dengan yakin berkata; "Saya sangat yakin bahwa saya bisa mengerjakan pekerjaan yang diberikan kepada saya. Tidak ada keraguan sedikitpun tentang itu!"

Lulusan salah satu perguruan tinggi di Jakarta ini mengajak teman-teman penyandang disabilitas yang lain untuk tetap mengobarkan semangatnya. “Kerja keras tidak akan pernah mengkhianati diri Anda sendiri dan selalu membuahkan pengalaman & hasil maka Anda perlu bekerja keras untuk mencari pekerjaan tanpa putus asa”, pesan Elbert bagi penyandang disabilitas yang belum bekerja.

Anik Puji Lestari

Kisah Anik adalah tentang keberanian dan daya juang. Karir yang mulai dijalaninya di BRI Jakarta Pusat ini berawal dari lamaran pekerjaan yang ia kirim lewat Kerjabilitas, setelah ia mendapati salah satu BUMN perbankan itu membuka lowongan untuk posisi Administrasi. Ditemani sang adik, Anik yang berdomisili di Pati, Jawa Tengah, berangkat ke Jakarta untuk memenuhi panggilan wawancara pertama yang kali ini dilakukan oleh rekanan BRI di Jakarta. Dan ia sukses melewatinya.

Kesuksesan tes pertama tadi diikuti oleh panggilan tes lanjutan yang kali ini akan dilakukan langsung oleh pihak BRI Jakarta Pusat sendiri. Berbeda dengan tes sebelumnya, kali ini adik yang sebelumnya mengantar Anik ke Jakarta berhalangan, sehingga Anik harus berangkat sendiri. Situasi yang kurang menguntungkan itu ia hadapi tanpa keraguan sedikit pun. Berbekal pengalaman dari perjalanan yang ia dan adiknya lakukan sebelumnya, ia memberanikan berangkat sendiri dengan menggunakan Kereta Api, yang kemudian ia lanjutkan dengan mencari kos harian setelah tiba di tujuan.

Tak lama setelah melewati tes lanjutan yang ia rasakan lebih menantang daripada tes pertamanya, Anik mendapat kabar dari BRI Jakarta Pusat bahwa ia diterima sebagai pegawai mereka! Syarat lanjutan berupa medical check up juga ia penuhi tanpa kendala sama sekali. Termasuk negosiasi Anik untuk melakukan check up di kota asalnya dan mengirimkan hasilnya lewat surel, yang disepakati oleh pihak penyedia kerja.

Bekerja di BRI Jakarta Pusat tanggal 1 Mei 2016 merupakan pengalaman pertama Anik masuk ke dunia kerja, sekaligus jauh dari keluarganya. Jarak sekitar 10 km setiap hari untuk sampai ke tempat kerja dari tempat ia tinggal tidak membuat dara amputee ini mengeluh sedikitpun.

Anik juga tidak mendapat kesulitan dari segi aksesibilitas dan semua rekan kerja terbuka dengan kehadirannya. Anik sendiri menganggap teman-teman di tempatnya bekerja sangat ramah dan mendukungnya dengan sepenuh hati. Perempuan lulusan Akademi Keperawatan ini memang harus sedikit bekerja lebih keras, karena harus beradaptasi dengan posisinya sebagai Staf Administrasi. Ketika ditanya oleh tim Kerjabilitas tentang pesan yang ia ingin sampaikan kepada para jobseeker lain, ia menjawab; “Semua manusia itu sama dihadapan Sang Pencipta, jika kalian masih memiliki kemampuan untuk berfikir, gunakanlah sebaik mungkin bagaimanapun kondisi fisik kita. Kunci urtamanya sabar dan pantang menyerah. Karena buah dari kesabaran akan terasa manis jika kita mau berusaha dengan tekun”.

Kisah Elbert dan Anik adalah inspirasi bukan hanya bagi kaumnya, namun bagi tiap individu lain yang bisa memetik pelajaran dari satu babak kehidupan mereka, yang buat mereka adalah pencapaian terbesar. Bukan saja karena ada yang menaruh kepercayaan terhadap kemampuan mereka, namun lebih karena untuk mendapatkan kepercayaan tersebut, mereka telah mengarungi rintangan-rintangan berat yang akhirnya membuat mereka makin kuat.

 

  • Published in Artikel

Jobseeker Kerjabilitas Paling Inspiratif April 2016

Sebagai portal job matching khusus disabilitas, tentunya Kerjabilitas mempunyai kewajiban membagi cerita dari para penggunanya yang bisa menginspirasi kita semua dengan pencapaian mereka. Pada bulan April ini, ada 3 jobseeker inspiratif yang wajib kamu dengar ceritanya. Siapa saja mereka? Simak di bawah ini!

Dhian Meidianto

Bergabung dengan Kerjabilitas sebagai pengguna sejak Juni 2015, Dhian adalah jobseeker yang terbilang sangat ulet. Sempat melamar dan ditolak di beberapa perusahaan seperti BPJS Ketenagakerjaan, Bank Mandiri dan PLN, tidak menyurutkan semangat Dhian untuk terus mencoba. Jobseeker yang berdomisili di Tangerang ini juga termasuk rajin berkomunikasi dengan tim Kerjabilitas untuk sekadar meminta klarifikasi informasi lowongan kerja maupun bercerita tentang hasil pencarian kerjanya. 

Setelah upaya pantang menyerah 6 bulan lamanya, kabar menggembirakan itu datang juga. Melamar pada PT. KPSG yang merupakan rekanan BRI, Dhian sukses melewati bermacam tes mulai dari psikotes, kesehatan sampai akhirnya Dhian berhasil ditempatkan di BRI Kanwil 3 Tangerang pada akhir Januari 2016.

Sempat diprogramkan untuk ditempatkan di BRI Jakarta Pusat, Dhian melakukan negosiasi dengan pihak penyedia kerja agar ia ditempatkan didekat tempat tinggalnya yaitu Tangerang. “Hidup di Jakarta memerlukan biaya yang besar, jika saya tinggal dan bekerja di Jakarta dengan gaji saya, nanti orang tua saya tidak bisa ikut merasakan hasil kerja saya," demikian alasan Dhian. Dan, negosiasi Dhian membuahkan hasil.

Sebagai jobseeker yang menggunakan alat bantu berjalan, Dhian tidak mendapat kesulitan dalam segi persyaratan dalam proses perekrutan. Hal ini disebabkan kualifikasi Dhian yang Sarjana Teknik Informatika dinilai sesuai dengan kebutuhan pihak penyedia kerjanya. Dhian juga tidak merasa kesulitan untuk bersosialisasi dengan rekan kerja yang non disabilitas. Saat ia menemukan bahwa kamar kecil di tempat kerja barunya belumlah aksesibel, ia bisa menerimanya karena banyak bantuan diberikan dari sesama rekan kerjanya.

“Jangan ragu untuk mencoba melamar pekerjaan, percaya diri lah dengan apa yang kita miliki”, demikian pesan Dhian terhadap penyandang disabilitas yang belum bekerja.

"Penyedia kerja yang ingin merekrut penyandang disabilitas selayaknya juga memberikan toleransi untuk batas usia pelamar, karena tidak semua penyandang disabilitas setelah menyelesaikan SMA akan langsung kuliah. Yang non disabilitas aja belum tentu setelah lulus SMA akan kuliah apalagi yang disabilitas", pungkas Dhian.

Iyat Supriatna

Iyat Supriatna yang biasa dipanggil Dayat bergabung dengan Kerjabilitas mulai Desember 2015. Tidak kurang dari puluhan lamaran ia kirimkan sejak ia bergabung, namun pemuda yang memiliki keterampilan komputer dan pengalaman kerja di bidang MLM ini masih belum beruntung, walaupun beberapa kali sempat mendapat panggilan wawancara. 

Sempat kesulitan untuk mengupload CV di akun Kerjabilitasnya karena file CV Dayat terlalu besar, Dayat berinisiatif untuk meminta bantuan kepada tim Kerjabilitas untuk menguploadkan CV nya di akun Kerjabilitas Dayat.

Setelah sukses melalui proses seleksi dan wawancara, kualifikasi, pengalaman dan keterampilan Dayat ternyata cukup meyakinkan pihak PT. Infomedia Solusi Humanika. Berita yang ditunggu-tunggu itu pun akhirnya datang juga. Awal April 2016 seolah mengawali karir baru Dayat sebagai Staff Call Center PT. Telkom cabang Semarang. 

Anita Gitasari

Berbeda dengan 2 jobseeker hebat yang diceritakan sebelumnya, dewi keberuntungan bagi Anita justru menghampiri lewat pesan pendek berisi informasi dari tim Kerjabilitas yang melihat kualifikasi Anita sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan oleh Bank Rakyat Indonesi Kanwil Semarang, yang membuka lowongan untuk posisi Staf Administrasi. Berbekal informasi lowongan tersebut, Anita yang bergabung dengan Kerjabilitas awal April, melamar pekerjaan lewat PT. KPSG Semarang dengan penuh percaya diri. Bagaimana tidak, jobseeker perempuan asal Semarang ini mengantungi ijazah S2 Bahasa Inggris dari salah satu universitas kenamaan di Yogyakarta. 

Setelah melalui psikotes dan wawancara, Anita akhirnya diterima bekerja dan ditempatkan di BRI Kanwil Semarang. Saat diwawancarai oleh tim Kerjabilitas, Anita menerangkan bahwa proses rekrutmen berjalan dengan baik dan ia pun diperlakukan dengan baik. Ia juga tidak merasa kesulitan saat harus bersosialisai dengan rekan dan tempat kerja barunya. Semua dirasanya mudah karena Anita yakin dengan kemampuan yang dimilikinya.

“Percaya diri lah dengan kemampuan yang kita miliki, jangan takut untuk bersaing dengan mereka yang non disabilitas. Karena kita tidak berbeda dengan yang lain”. Pungkas Anita sebagai saran bagi jobseeker disabilitas lain yang belum bekerja.

Kisah-kisah di atas bukan saja inspiratif, namun membuktikan bahwa kesempatan selalu ada di luar sana, asalkan kita tidak mudah menyerah. Lewat mereka kita belajar bahwa kepercayaan diri, pendidikan dan pengalaman lah yang membuat kita bisa sukses masuk ke dunia kerja di tengah persaingan yang sengit sesama jobseeker, baik disabilitas maupun non disabilitas. Terlepas dari siapapun yang merasa memberikan "jasa baik" untuk mengantarkan mereka masuk ke dunia kerja, Dhian, Iyat dan Anita adalah pahlawan buat kaumnya.

  • Published in Artikel
Subscribe to this RSS feed